Pada tahun 2016, sekitar bulan Oktober dan November.
Seorang pengurus PM UKI yang saat itu menjabat, bang Andi, mensharingkan aku sebagai salah satu calon pengurus untuk melayani di PM UKI (Persekutuan Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia).
Pada awal pertemuan yang sudah kami sepakati sebelumnya, kami hanya membahas hal-hal yang menyangkut pelayanan di Fakultas Sastra saja--karena saat itu aku adalah koordinator FS.
Dalam perbincangan berikutnya, bang Andi menanyakan kesediaan aku untuk menjadi salah seorang pengurus PM UKI 2017/2018.
Dalam sharing itu aku menjawab tidak untuk sementara melanjutkan pelayanan di PM UKI, namun terus mendoakan.
Beberapa waktu berlalu, dan aku tetap berdoa, aku bergumul, ada beban besar yang Tuhan tetapkan dalam hatiku, sebab memang aku merindukan semua orang mengenal siapakah Kristus--yang telah mati karena dosa-dosa manusia, aku terus berdoa, hingga akhirnya aku mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupanku, yaitu untuk menjadi saksiNya dan melayani Dia.
Tidak mungkin bagiku untuk mendorong orang memberitakan Injil dan melayani, sementara aku sendiri bukan seorang saksi Tuhan Yesus juga pelayanNya, apa yang bisa aku perbuat?
Jadilah kehendak Tuhan, bukan kehendakku, lagipula hidup adalah milik Tuhan, suka-suka Tuhan saja.
Dalam segala hal aku adalah pejuang, dan dalam segala sesuatu itu juga Kristus adalah Sang Raja yang kepadaNya aku mengabdi, pantaskah aku tidak menuruti dan melayani Tuanku?
Tuhan yang mengutus, Tuhan yang menyertai.
Aku percaya dan aku rindu untuk merasakan banyak penyertaan Tuhan dalam kehidupanku.